Garut. Satu nama kota di kabupaten Jawa Barat yang tentu memiliki beragam tafsir kepada orang yang mengenalnya. Garut memang identik dengan beragam hal. Mulai dari sunset sampai santet selalu menghias cakrawala dialektika setiap orang. Selain fenomena alam dan manusianya, Garut pun memiliki ragam khasanah kuliner tradisional yang menarik; salah satunya adalah Peueut.
Peueut tentu tidak sefamiliar dengan makanan lain, bahkan banyak orang mengernyitkan jidatnya jika mendengar nama makanan ini.
Cairan setengah jadi gula aren ini memang belum masuk dalam atmosfer per-kulineran masyarakat umum. Peueut hanya hadir dalam lingkup masyarakat terbatas, mewarnai aktifitas harian perajin gula aren di beberapa daerah penghasil gula. Tidak terkecuali di kampung Datar Kadu Ciséwu.
Sampai saat ini kampung Datar Kadu Ciséwu merupakan penghasil gula aren yang cukup terkenal. Hal tersebut terjadi karena produksi gula aren di kampung ini telah menjadi warisan turun temurun. Namun disayangkan kehadiran Peueut seolah terlupakan, kalah popularitas dengan gula yang menjadi produk akhir dari pohon aren ini.
Untuk mengangkat khasanah Peueut kepada masyarakat luar Ciséwu, sejumlah pemuda yang berasal dari kampung tersebut mencoba mengenalkan Peueut kepada masyarakat luas.
Berawal dari percakapan sederhana, kerinduan kampung dan masa kecil yang penuh kebahagiaan. Mereka mencoba menjadikan Kampung Datar Kadu menjadi Kampung Peueut. Sebuah penamaan yang memberi identifikasi budaya dan sosial kepada masyarakat luas.
Penamaan Kampung Peueut sendiri tidak lepas dari potensi masyarakat di tempat tersebut yang memiliki sistem warisan budaya petani Aren.
Program Kampung Peueut ini sendiri bukan hanya sebatas untuk mengenalkan makanan olahan Peueut semata. Lebih dari itu mencoba untuk memberikan kesadaran ulang terhadap generasi baru di Cisewu akan potensi Aren atau Kawung.
Seperti diketahui Kawung merupakan salah satu pohon yang mampu menjadi tangki penampungan air di bawah tanah. Keberadaan Kawung sendiri saat ini semakin berkurang karena pergeseran sistem pertanian masyarakat di Ciséwu.
Selain itu semakin tua pohon Kawung yang terus dimanfaatkan masyarakat selama puluhan tahun, memerlukan gerakan bersama untuk tetap melestarikan pohon tersebut.
Tentunya dengan penamaan Kampung Peueut tersebut, semua stake holder yang memiliki keterikatan dengan Ciséwu akan rempug jukung sauyunan menjaga keberadaan Kawung tetap lestari.
Diharapkan dengan hadirnya penamaan Kampung Peueut ini mampu pula menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Cisewu. Pengunjung akan menyaksikan warna kehidupan para petani Kawung, yang penuh dengan cerita lisan dan keahlian turun temurun.
Apalagi apabila menyimak kondisi saat ini, dunia sudah dalam genggaman layar sentuh kampung Peueut ini akan mampu dikenalkan kepada masyarakat luar Ciséwu.
Tentunya untuk lebih mengenalkan kampung Peueut ini, akan diselenggarakan beragam hal penunjang aspek wisata, tanpa melupakan essensi terpentingnya yakni, budaya Ciséwu.
Aspek gerak dan bunyi akan diciptakan untuk materi pendukung program budaya wisata ini.
Beberapa rekan penari akan menciptakan tarian yang terkait dengan Peueut, pun musik pun akan menghadirkan eksplorasi gamelan Lahang yang unik dan tidak ditemukan di daerah lain.
Ketika aspek massa pendukung ini mampu berjalan dengan baik, target kedepan untuk menggairahkan Ciséwu sebagai daerah budaya dan wisata adalah hadirnya Festival Peueut.
.
Narasi by Agus Bebeng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar